Pilih Non-aktif atau Cuti Kuliah?


Dua istilah ini sering dibaca dan didengar oleh seluruh civitas akademika STMIK Palangkaraya, tetapi boleh jadi ada yang belum paham tentang pengertian dan dampak dari penerapan kedua istilah ini. Bukan hanya mahasiswa yang kurang memahami kedua istilah ini, bahkan juga mungkin Dosen Pembimbing Akademik perlu diberikan pengertian yang benar tentang konsekuensi istilah-istilah ini.

Sebagaimana biasa, setiap awal semester selalu diinformasikan dan diumumkan perihal herregistrasi dan penyusunan KRS dengan batas waktu tertentu. Pembatasan masa penyusunan KRS sangat berkaitan dengan kewajiban pelaporan data-data akademik kepada Kemenristek Dikti (Forlap). Jika terjadi keterlambatan dalam pelaporan maka fasilitas dan layanan dari Kemenristek Dikti akan tertutup secara otomatis. Dampak penutupan layanan ini adalah kepada Program Studi yang terlambat pelaporannya, termasuk ditutupnya layanan beasiswa, sertifikasi dosen, hibah penelitian dan pengabdian, program kreativitas mahasiswa, kelulusan dan lain-lain.

SATU ORANG DAPAT MENYEBABKAN SEBUAH PROGRAM STUDI TERKENA PENALTI. PEMBATASAN WAKTU PENYUSUNAN KRS DITUJUKAN UNTUK KEBAIKAN SEMUA PIHAK.

Oleh karena itu mahasiswa yang melewati waktu penyusunan KRS tidak dapat diberikan perpanjangan waktu. Kepada mahasiswa yang terlambat menyusun KRS disarankan untuk mengambil Cuti Kuliah, atau jika tidak maka akan dianggap Non-aktif.

Perbedaannya

Apa perbedaan dari 2 istilah ini, Non-aktif dan Cuti Kuliah?

Silahkan perhatikan baik-baik perbedaan dan konsekuensi dari 2 istilah tersebut pada tabel di bawah ini.

Poin Status
Non-aktif Cuti Kuliah
Biaya untuk semester berjalan WAJIB bayar SPP 100% (jika tidak dibayar akan ditagih pada semester berikutnya ditambah dengan biaya SPP semester tersebut) Hanya membayar biaya administrasi Cuti Rp200.000,- (jika terlanjur membayar SPP akan dialokasikan untuk biaya SPP semester berikutnya)
Durasi waktu penyusunan Tugas Akhir (kedaluwarsa judul) Tetap dihitung sehingga risiko ganti judul sangat besar Tidak dihitung dan akan dilanjutkan setelah aktif kembali
Prosedur penetapan status Jika tidak mengajukan Cuti atau tidak ada kabar atau konfirmasi setelah lewat waktu, maka otomatis akan dijadikan mahasiswa Non-aktif Mengajukan permohonan Cuti, membayar biaya administrasi, diberikan surat Persetujuan Cuti

Dari tabel di atas sangat jelas perbedaannya, dan juga dampaknya. Selanjutnya silahkan pilih mana yang terbaik.

Tertib Bertahap

Berkaitan dengan jadwal herregistrasi dan penyusunan KRS yang dibatasi karena harus melaksanakan pelaporan kepada Kemenristek Dikti, maka sudah seharusnya kita mulai melakukan perubahan dan penertiban secara bertahap. Oleh karena itu, mari bersama-sama mematuhi jadwal dan aturan yang diberlakukan. Diharapkan dengan penertiban ini akan mengubah “mindset” dan sikap “santai” seperti yang terjadi selama ini.

Penerapan kebijakan tidak ada penambahan waktu herregistrasi dan penyusunan KRS ini adalah tahap awal dalam rangka melakukan penertiban di bidang akademik. Bidang selanjutnya akan segera ditertibkan juga.

Mari buktikan semboyan kita: Kuliah Beneran, Benar-benar Kuliah.

-BHC201903012115




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *